Lama sudah aku memberhentikan diriku dari dunia tulis-menulis. Dan tanpa sadar ini berpengaruh besar pada kemampuanku, bahkan kehidupanku. Semenjak aku tidak aktif lagi, aku mengalami kesulitan untuk bercerita. Rasanya sangat banyak yang ingin aku ceritakan, pada saat aku sedang berbicara dengan seseorang. Namun semua cerita itu rasanya menjadi acak, terpotong-potong, rasanya semua berjejal di otakku. Dan akhirnya hanya sebagian kecil yang terucap, akupun tidak bisa menceritakan sesuatu secara jelas dan detail. Aku benar-benar kesulitan. Apalagi masalah kosa kata. Sangat susah bagiku untuk mendeskripsikan sesuatu dan mencari frase yang tepat.
Maka kali ini aku ingin membiasakan diriku untuk menuli lagi. Mungkin hanya cerita sehari-hari, namun setidaknya aku harap ini bisa membantuku untuk lebih komunikatif. Anggap saja blog ini adalah diaryku. Menjadi tempat bagiku untuk berkeluh-kesah, mencurahkan isi perasaanku.
Sebenarnya sekarang hidupku santai-santai saja. Aku bersyukur untuk itu. Dalam artian, tidak begitu banyak masalah yang harus kuhadapi, mungkin sekitar setahun belakangan, beberapa bulan setelah aku menikah. Sewaktu masih 19, aku memutuskan untuk menjadi istri kedua seorang laki-laki yang 20 tahun lebih tua daripada aku. Dia tak memiliki masalah sama sekali dengan istri pertamanya. Bahkan sampai sekarang, hubungan mereka berdua masih hangat. Hanya satu, istri pertamanya itu sulit memiliki keturunan. Sementara dia sangat ingin memiliki keturunan laki-laki. Di Bali, kebanyakan orang merasa wajib untuk memiliki seorang anak laki-laki sebagai penerus keluarga nantinya.
Aku sama sekali tak berniat untuk merebut suaminya atau bahkan merusak rumah tangganya. Aku masih tidak yakin kenapa tapi aku merasa bahwa aku sangat menyayangi pria ini. Dia lelaki yang paling membuatku nyaman dari semua lelaki yang pernah aku pacari. Nyamanku padanya membuatku lupa daratan. Ketika suatu hari dia memohon padaku untuk memberikannya anak, aku mengiyakan begitu saja. Lupa pada keluargaku yang terjebak dalam masalah ekonomi dan jelas masih membutuhkanku sebagai tulang punggung mereka. Lupa akan beasiswa yang mati-matian aku cari demi berangkat ke luar negri. Lupa pada semua yang berkata 'Jangan. Ini masalah besar'.
Dan akhirnya akupun hamil. Ini benar-benar cerita panjang dan penuh air mata dimana akhirnya aku bisa menikah dengannya walau hanya secara agama. Sampai saat ini istri pertamanya masih tidak setuju dengan keputusan yang diambil oleh suaminya, meski sekarang dia tak pernah lagi mengusik kehidupanku dan anak-anakku. Di sisi lain, aku kagum padanya. Begitu besar cintanya pada anak dan suaminya hingga ketika suaminya memaksa untuk menikah dan memiliki anak lagi dengan perempuan lain, dia memilih untuk tidak bercerai dan tetap tinggal dengan suaminya.
Sekarang aku sudah mempunyai 2 bayi mungil yang lucu-lucu. Seorang Kakak laki-laki yang tampan dan kuat, serta seorang adik yang cantik dan manis. Mereka beda 11 bulan. Betapa bahagianya aku memiliki mereka. Dan sampai saat ini aku masih mencintai suamiku. Meski hubungan kita masih belum disahkan secara hukum, namun aku bersyukur menjadi ibu dari anak-anak yang sehat dan lucu serta istri dari laki-laki yang rela mengorbankan segalanya untuk anak-anaknya.
Mungkin sampai disini dulu ceritaku. Ada banyak kisah yang ingin aku ceritakan, terutama bagian yang sengaja aku lewatkan sebelum aku menikah. Sekian dulu. :)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar